|
“Sebagai
seorang manusia sangatlah wajar apabila dia lupa yang terlupakan.
Namun tidaklah demikian dengan lupa yang [memang] dilupakan, ada
sesuatu yang tidak wajar terjadi di sini, dihidup-kehidupan
sehari-hari kita. Seakan [telah] menjadi suatu kebiasan buruk yang
mendarah-daging dalam setiap detak jantung hingga pada derap-langkah
kaki kita. Akankah kita lanjutkan hal seperti ini...? Atau hanya kita
biarkan ’bagaimana nanti’ saja dengan [pura-pura] ’menutup’ mata
kepala kita, hingga ’melelapkan’ mata hati-batin kita dengan
lingkungan sekitar kita...?” |